Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Poets

Sajak Secangkir Kopi dan Lampu Kota

Kamu tau lampu kota bisa menghiasi malam, Tapi kau juga tau cahaya itu memudarkan perasaan kelam, Dari seberkas siluet bayangan diri yang tampak, Juga dari kerisauan saat kenangan datang, Oh ya, saat menikmati lampu kota Seduh kopi untuk mengundang kehidupan, Hitamnya memberi kejutan saat malam, Dan juga membuat kita mengerti pahit kehidupan, Ketika malam, Kita undang malaikat yang turun, Dalam seberkas cahaya lampu temaram, Secangkir kopi dan lalu lintas sunyi. Bantarkawung 4 Februari 2012

Sebuah perjalanan kembali ke bulan

Ketika langit bersabda, Bumi menjadi saksi kita berdua: Sebelum perjalanan, ku menunggumu dengan sedikit teh tawar, Yang secara gradual memicu urat saraf yang melonggar, Hingga mengendur dan terhentak kembali sampai terputus, Tatapan mataku kini menyempit serta, Sekarang yang kita butuhkan nira kelapa yang manis, Sementara kepahitan melanda perjalanan kita ke bulan, Di awali dengan kayuhan sepeda bergerigi, Kita melihat beberapa tanaman yang muram terkena matahari, Serta bertegur sapa kepada awan bergerak pergi, Perjalanan di akhir lebih dengan cerita dahsyat, Kita melihat matahari mulai meredup, Dan bumi terlihat bungkuk berat mengangkut bulan. Yogyakarta, 5 april 2011 01:50 am

Eksakta dari Etalase Hati

Saat aku tenggelam dalam aura birumu itu, menjadikan dunia berhenti untuk sesaat, Terkikis rinduku itu sudah, Berujung distorsi saat petikan gitar menggema dalam hati,         Disela-sela senyummu itu aku berpikir sejenak,         Tentang Fragmen dalam tetesan kata “kasih”         Eksakta dari segenggam rasa yang dinamakan “rindu” Dan aku bersumpah atas namaku sendiri, Tak akan lagi benih yang tertanam dalam asa, Berbalik peluru yang kau tembakan, Tertidur dalam pelukan bumi. Yogyakarta, 21 September 2010 08.20 pm

Distorsi Rindu

Dari kaki kanan bertapak keinginan untuk kembali dalam pelukan hangatmu, Tanpa di sadari pikiranku buntu, stagnan di ujung belaian terakhir saat ku tinggalkan, Berfantasi saat kau bekukan mataku ini menjadi sebuah batu es, : menjadikan saraf otak kananku pecah dan berbaur dengan warna darah yang pekat Bersandar dalam naungan keramaian kota,  tetapi melebur menjadi satu warna hijau yang nyaman, Kerinduanku untuk kembali berbias menjadi kesatuan  rasa dan karsa, Tumbuh dan menjalar setiap indra hingga menjadikan keputusan :Hidup dan matiku hanya untukmu.

Riwayat Pena

Sebuah siklus terjadi di atas bumi, Tentang pasang surut angin, Dan berkecamuknya alam sadar penaku, Yang tersurat dan tersirat dalam secarik kertas, Tembok menjadi tepi mimpi dikala senja, Sementara pintu adalah saksi, Ku tulis sajak-sajak kerinduan pada embun pagi, Riwayat jukstaposisi bekukan matahari, Wajah manusia pucat seketika, Melihat hujan, Hingga sekarang hujan dan awan tak lagi bersama. Yogyakarta 24 Januari 2011