Skip to main content

Menulis, menulis, menulis!

Saya sudah lupa caranya menulis. Dengan penakah? Atau dengan pikiran ataupun dengan hati. Pena membuat bercak hitam pada yang putih dan pada semua warna tentunya. Alat tulis ini membuat sayatan yang begitu perih jika dengan ego. Akan tetapi pena seperti berubah menjadi air yang memberi kehidupan pada seluruh makhluk di dunia jika hati yang luluh menggenggamnya. Kini pena tergantung pada situasi dan juga emosi pemiliknya. Itukah menulis?
            Pikiran adalah tempat berkumpulnya hasrat dan keinginan manusia. Dalam batas realistisnya manusia memproses tentang apa yang ditemukan, dilihat, didengar dan untuk selanjutnya dipelajari lewat saraf-saraf otak yang begitu rumit. Prosesnya berfikir, memakan korban waktu dan juga tempat sebagai sarananya. Tempat mungkin agak tak terlibat dalam proses ini. Akan tetapi proses berfikir berlaku di segala tempat di penjuru dunia ini. “Tempat” mempengaruhi kerangka dari proses itu sendiri. Ini terbukti dengan adanya kebudayaan yang berbeda di setiap tempat. Bisakah kita menulis dengan pikiran yang memakan tempat dan hasrat manusia yang biasa disebut homo sapiens? Kembali lagi permasalahannya dengan Hasrat. Dan itu adalah egois.
            Setiap manusia mempunyai rasa kemanusiaannya sendiri. Mungkin sebenarnya itu berpangkal dari Hati. Hati merupakan gambaran seorang manusia. Efeknya terkadang postif, tetapi juga bisa berbalik negatif. Ego berbalik menjadi sarana terburuk yang pernah ada. Dengan istilah memberi hati semua manusia luluh (jika mereka punya hati). Selama ini hati yang lebih nikmat di sebut jiwa seseorang, juga sudah memakan korban manusia itu sendiri. Kini hati adalah Sarana yang terbaik  untuk melakukan hal yang terburuk. Karena Hati adalah Tempatnya “Perbedaan”.  Dengan kesendiriannya menulis tanpa pena adalah cacat, tanpa pikiran adalah jebakan, tanpa hati adalah putih.

(catatan ini ditulis atas azas kekeluargaan yang diandasi oleh pikiran)

Comments

Popular posts from this blog

Once Upon a Time In America : Hembusan Kenangan Kelam Mafia

Walau saya baru tahu bahwa film ini sebenarnya berdurasi 269 menit (4 jam 29 menit), itu tak mengendurkan saya untuk mengagumi film ini.  Masih beruntung saya mendapatkan film dengan durasi 229 menit (3 Jam 49 menit),  karena ada yang lebih mengerikan jika dikaitkan sejarah editing film ini. Film Once Upon Time in America yang rilis di amerika pada tanggal 1 Juni 1984 hanya menyisakan durasi film 139 menit! Bisa di bayangkan betapa sakitnya sang sutradara Sergio Leone ketika melihat filmnya sendiri. Once Upon Time in America adalah film yang dapat membuat penonton mengkerutkan dahi mereka. Pasalnya banyak scene cukup membuat bingung, mungkin pengaruh proses cutting, atau saya yang kurang mengerti isi cerita film ini. Alur film non-kronologis (1920-1960), serta cerita lebih banyak di gambarkan dengan kilas balik. Film ini menceritakan kisah hidup Noodles (Scot Tiller-Robert De Niro) anak jalanan di Kawasan Manhattan yang berjuang bertahan hidup dengan jalan menjadi...

Beberapa Cerita dari sebuah Perjalanan

irniirmayani.files.wordpress.com Fajar mulai menyingsing ketika ibu sudah menyiapkan wedang hangat untuk kami, dua gelas kopi hitam. Beliau juga membawa beberapa cemilan agar perut kami tak kelaparan karena tak sempat sarapan. Di keluarga kami, atau di indonesia pada umumnya makan adalah sah jika terdapat nasi. Maka dari itu kopi dan cemilan bukanlah sarapan, akan tetapi hanya kudapan. Ibu memang wanita yang sangat sederhana. Setiap hari sebelum berangkat shalat subuh di masjid ibu sudah menanak nasi. Akan tetapi hari ini beliau tidak menanak nasi seperti biasanya. Ibu sudah tau, aku bersama bapak akan pergi ke kabupaten untuk menuntaskan beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan pensiun Bapak. Karena jarak dari desa ke ibukota kabupaten cukup jauh, kami pun harus berangkat setelah shalat subuh.  Perjalanan akan kami tempuh dengan mobil sederhana yang kami miliki. Setelah punya cucu, bapak baru bisa membeli mobil yang cukup layak untuk berkunjung dan membawa keluarga peles...

Juragan Haji: Meraih Cerita Pendek yang Kaya Konflik

Cover Buku Juragan Haji  Judul Buku   : Juragan Haji Penulis           : Helvy Tiana Rosa Penerbit        : Gramedia Tahun            : Agustus, 2014 Tebal              : 188 Halaman M emang sudah tampak isi yang akan dicurahkan Helvy Tiana Rosa dalam buku ini. Tema islami akan terlintas pada benak calon pembaca sejak melihat sampul buku yang terpampang di toko. “Juragan Haji” merupakan judul kumpulan cerpen karya Helvy yang terbit di bulan Agustus 2014 lalu. Beliau memang sudah menjadi nama yang kondang dalam jagat sastra, terutama dalam mengangkat tema-tema islam kontemporer dan sosial. Segudang karya yang ditulisnya mendapat perhatian para pemerhati sastra Indonesia bahkan dunia. Selain itu, Helvy juga terbilang aktif dalam perkumpulan serta organisasi seni dan sastra.  Terlepas dari kegiatan dan keseriusan Helvy di dunia kesusastraan, kum...